6 Februari 2013

When Tiffany Fallin’ Love [Chap-1]


Title       : When Tiffany Fallin’ Love
Author   : Han Ha Rin
Main cast             :

1.       Tiffany SNSD As Her Self

2.       Lee Sung Min As Him Self

3.       Lee Dong Hae As Him Self

Other Cast          :



1.       Leeteuk As Him Self – Fanny’s First Brother

2.       Heechul As Him Self – Fanny’s Second Bro

3.       Siwon As Him Self – Fanny’s Third Bro

4.       Yesung As Him Self – Fanny’s Fourth Bro

5.       Wookie As Him Self – Fanny’s Fifth Bro

6.       Seohyun As Her Self

7.       Yu Ri As Her Self – Sung Min's Sister

8.       Hyoyeon As Her Self – Tiffany’s friend


Genre   : Romance, Comedy

Disclaimer by : Momo Love (Taiwanesse Drama)

Rating   : General (G)
Crossposting : Facebook
R/R [Read & Review] : Diharapkan Readers tidak pasif

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Annyeong haseyo readers yeorobun.... Eotthokhae jinasimnika???? Semoga Semua dalam keadaan baik ne... ^^ Thor is back, Kali ini thor bawakan cerita baru nih... Masih dengan cast dari Super Junior dan kali ini Min pake cast SNSD juja... Hmmm.. Thor pake Cast Lee Sung Min dan Lee Dong Hae lho sebagai cast utamanya... Kisaran ceritanya pasti reader udah tau sedikit donk??? Karena beberapa waktu yang lalu thor sudah rilis teaser dari ff ini... Yups! Cerita kali ini masih Disclaimer, tapi thor ga bakal buat sama banget dengan cerita aslinya, thor pasti buat perbedaan lah supaya ceritanya lebih segar... Fresh from the open lah istilahnya... *cie gaya lu thor..
Ah yesungdahlah daripada berlama-lama, mending langsung kita baca ajah nyok ff baru thor ini... Eits tapi sebelum mulai read jangan lupa LIKEnya dulu!!! Happy reading!!! ^^
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Wookie's POV


  "Annyeong hasimnika Naneun Ryeowook imnida atau biasa dipanggil Wookie oleh hyungdeulku. Jika aku katakan bahwa hidup adalah seperti sebuah drama, kehidupanku mungkin harus drama di mana kau ingat masa lalu. Mungkin itu sebuah drama yang membosankan. Aku tidak akan pernah menjadi bintang utama dari drama ini." gumamku sembari melihat sepasang mahasiswa yang sedang berciuman mesra di atap kampus dan disaksikan oleh banyak orang. "Kudengar ada namja yang sedang menyatakan cinta kepada Tiffany lagi" kudengar dari yeoja yang sedang berbincang dengan temannya di sampingku "ah jinjja? Bulan ini sudah berapa banyak yang menyatakan cinta padanya?" jawab kawannya "mwo? tidak lagi..." ucapku tersentak, aku baru menyadari ucapan mereka adalah ancaman bahaya untuk namja itu.

   Aku segera mencari di mana Tiffany berada, dari atas balkon kampus aku melihat sosok Tiffany dan sahabatnya Hyoyeon sedang berhadapan dengan seorang sunbae "dari awal hidupku yang sudah diatur dalam batu, bahwa karakter utama di drama hidupku yang sebenarnya hanya adik kecilku  Tiffany" gumamku seraya memerhatikan sunbae yang sedang berhadapan dengan Tiffany di bawah.

Wookie's POV End


***

Narasi

   Di hadapan Tiffany sudah ada Sunbae Kim yang membawa secarik kertas cokelat dengan ekspresi wajah yang tegang. Tiffany memperhatikannya, nampaknya ia ingin menyatakan perasaannya pada Tiffany "dengar! Dia adalah Kim oppa, dia sudah belajar arsitektur selama lima tahun, dia belum juga lulus. Ah dia sudah gila" bisik Hyoyeon sahabat Fany. Kembali ia perhatikan wajah Sunbae Kim "setelah hujan, angin dan hujan berhenti dibawah sinar matahari. Akhir dari dunia hampir tiba, apa kau tahu? Aku menantimu di sini? Tiffany ya perasaanku padamu semakin hari semakin bertambah, ini adalah sebab aku menghabiskan waktu denganmu. Ketenangan elegan yang kucintai telah mengambil alih segenap hati, aku ingin kau tahu itu" ujar Sunbae Kim sepertinya membacakan puisi untuk Fany. Fany nampaknya sama sekali tak mengerti maksudnya, namun Hyoyeon terkekeh mendengar ucapannya. "Sunbae hentikan! Kau akan menyesali perbuatanmu kini, cepatlah selamatkan dirimu sekarang! Jaebal jangan ulangi perkataanmu lagi!" ujar Wookie yang tiba-tiba terdengar jauh di belakang Fany berdiri "aku tetap ingin bilang Sunbae pemberani, sangat berani" ujar Hyoyeon sedang menatap sunbae Kim terkagum-kagum "daisuki desu" teriak Sunbae Kim menggunakan bahasa jepang "saranghae" ucap Hyoyeon memeluk Fany bersamaan dengan ucapan sunbae Kim "yaks, kenapa dia tetap ucapkan kata-kata itu?" pekik Wookie kesal.



   Sunbae Kim menghampiri Tiffany seraya memberikan secarik kertas cokelat berisi puisi tersebut "Tiffany ya! Aku bertemu denganmu adalah hadiah terindah untukku, mau kah kau menjadi yeojachinguku?" ujarnya sembari menyerahkan secarik kertas tersebut. Dari belakang Tiffany, Wookie segera mengambil foto dari momen tersebut menggunakan kamera di ponselnya. "Tiffany kau telah menjadi orang terpenting dalam hidupku karena Tiffany adalah yeoja satu-satunya dari keluargaku yang memiliki empat oppa yang aneh tidak termasuk aku. Sunbae semoga berhasil!" pekik Wookie menatap penuh cemas ke arah sunbae Kim. Ia segera mengirim foto tersebut kepada keempat kakaknya.

Imajinasi

   Tiba-tiba Wookie berada di sebuah ruang siaran berita "Ini adalah hyung pertamaku. Namanya Leeteuk, dia seorang pembaca berita laporan cuaca di salah satu stasiun tv. Dia juga memiliki kekasih sebagai anchor berita di tv swasta tersebut, hyung pertamaku adalah yang paling gila. Jika ia mendapati alarm merah di ponselnya itu tandanya Tiffany dalam bahaya, meski ia sedang siaran ia pasti segera menyelesaikan tugasnya dan cepat-cepat meluncur menuju tempat dimana Tiffany berada." ujar Wookie yang tiba-tiba berada di tengah-tengah Leeteuk. Selanjutnya Wookie mendadak berada di sebuah tempat yang berbeda "yang satu ini adalah hyung keduaku namanya Heechul, dia seorang fashion designer. Maka dari itu tak heran jika ia dikerubungi banyak yeoppo yeoja. Bukan hanya tampan tetapi ia juga sangat fashionable. Sama halnya dengan hyung pertamaku, jika mendengar alarm merah dengan sigap ia akan meninggalkan pekerjaannya "kemana Heechul oppa? pertunjukkan akan segera dimulai beberapa menit lagi, ia harus segera sampaikan beberapa pesan pada para tamu?" sahut seorang yeoja yang termasuk salah satu kru Heechul, mereka tidak tahu Heechul segera menghilang saat alarm merahnya berbunyi. Lanjut ke tempat lain, Wookie kini sudah berada di dalam sebuah kelas. Wookie melihat sesosok namja tinggi, putih, tampan, menggunakan kaca mata minsnya sedang menyelesaikan sebuah soal matematika di papan tulis.

    "Yang ini adalah hyung ketigaku, namanya Siwon. Siwon hyung bukan hanya tampan tapi otaknya sangat cerdas, bahkan ia bisa berbalik mengajari dosennya. Jika mendengar alarm merah itu berbunyi hyungku yang satu ini juga tidak kalah gila, ia pasti segera pergi menemui Tiffany" gumam Wookie melihat Siwon buru-buru pergi dari kelasnya usai mengerjakan soal matematikanya. Sang Dosen memeriksa hasil kerja Siwon "kenapa dia begitu terburu-buru?" sahut dosen tersebut sebelum memeriksa soal tersebut. Selang beberapa menit "aigho, jawaban dia benar sekali. Dia benar-benar jenius" ucapnya berdecak kagum dan semua mahasiswa pun bersorak. Wookie berada di lain tempat lagi, kini ia berada di belakang seorang namja yang sedang asyik berselancar dengan indahnya "dia adalah hyung terakhirku, namanya Yesung! Dia namja keren dan atletik, hobinya olahraga ekstrim seperti ini. Ia juga tampan, berkharisma tinggi. Tengok saja yeojadeul yang meneriaki dia di tepi laut itu! Banyak sekali yeoja yang mengaguminya. Yaks! tapi sama saja dengan hyungdeulku yang lain, dia sama gilanya, melindungi yeodongsaeng satu-satunya berlebihan" gumam Wookie masih ikut berselancar dengan Yesung yang segera menepi seusai mendengar alarm merah di ponselnya berbunyi.


   Kembali ke Wookie, kini Wookie sudah berada di parkiran kampusnya. Betapa tersentaknya ia ketika menoleh ke kanan sudah kedapatan Leeteuk yang baru saja memarkir mobilnya, ia segera berbalik ke kiri namun naas mobil Heechul sudah menghimpitnya, ia pun hendak berbalik ke belakang tapi sia-sia dibelakang sudah ada Siwon yang menghadangnya. Ia kembali memutar badannya ke depan namun tiba-tiba Yesung datang dengan menghentikan motor besarnya dihadapannya. Kini Wookie dikepung oleh keempatnya hyungnya yang gila "yaaaksss!!! matilah aku, kenapa hanya hidupku yang sengsara begini" pekiknya menarik napas pasrah. "Dimana Tiffany berada Wookie ya?" tanya keempat hyungnya menatap tajam ke arahnya "mollayo, aku mau pulang!" sahut Wookie kesal "kau ini! Kau kan oppanya kenapa kau tidak tahu dia dimana eoh?" sahut Leeteuk menekan "yaaksss!!! Kalian juga kakaknya tapi kenapa harus aku yang selalu menjaganya? Lalu tugas kalian apa?" Wookie mendengus kesal "Wookie ya!!!!!" seru keempat kakaknya menggeram membuat Wookie ketakutan "ah ne ne, kajja ikut aku!!" sahut Wookie segera menunjukkan jalan.

Imajinasi End

***

Wookie's POV

   Yaaakksss... kenapa hidupku harus begini? Selalu dibully hyungdeulku. Aku segera menemui sunbae Kim di belakang kampusku, hyungdeulku ingin menemui sunbae itu. Ah matilah dia, seperti yang sudah-sudah pasti nasib tragis akan menjadi akhir kisah namja yang mencoba mendekati yeodomsaengku Tiffany. Aku tak tega melihatnya. Beberapa menit kemudian, aku dan keempat hyungku sampai di depan sunbae itu "hey! kau namja, apa kau menyukai uri Tiffany eoh?" tegur Leeteuk hyung yang duduk di salah satu besi pembatas lapangan dengan kursi penonton, kulihat hyungku yang lain terus menatap dan melangkahkan kakinya hingga sunbae itu memundurkan langkahnya dengan penuh rasa takut "aku.. aku menyukainya wae?" ucap sunbae itu mencoba membenarkan kacamata kudanya dan menatap ketiga kakakku "mwo? menyukai uri Tiffany? wuah... dia cari mati hyung!!" ucap Yesung hyung memanasai Leeteuk dan Heechul hyung nampaknya, aku hanya berani memerhatikan mereka dari kejauhan "ah? kau menyukai uri Tiffany nde? kau tidak takut dengan kami rupanya eoh?" ujar Heechul hyung bengis "hyung, enaknya kita apakan namja ini nde?" tanya Siwon hyung lantang "aku tidak takut dengan kalian" aigho sunbae itu menantang hyungdeulku yang gila. "kau tidak takut? aaahh rasakan ini!!!" teriakan semua hyungku. Beberapa menit kemudian, aku melihat sunbae Kim sudah berada di atas salah satu patung besar di depan gerbang kampusku "turunkan aku!!! jaebal!! jangan tinggalkan aku!!!" teriaknya, namun hyungku dan aku harus meninggalkannya di sana sendirian "ah mianhae sunbae" pekikku membathin.

Wookie's POV End

***

Tiffany's POV

   Aku baru saja hendak keluar dari kampus, yaks kenapa harus turun hujan? Aku bisa kehujanan, padahal aku dan Hyoyeon masih harus berjalan menuju halte bus. Menunggu hujan aku pasti tertinggal bus, terpaksa aku dan Hyoyeon bergegas lari menuju halte bus. Ah benar saja, tak lama aku sampai bus sudah terhenti. Dengan tubuhku yang basah menyeluruh aku segera menaiki bus tersebut, aku dan Hyoyeon dapat tempat duduk di belakang. Gwenchana, setidaknya aku sudah berada di dalam bus. Aku segera membersihkan rambut dan tubuhku yang basah menggunakan tisu, aku tahu tisu tak cukup membuat diriku kering tapi setidaknya wajahku tidak terlalu basah "yaks!!! kita jadi basah-basahan, paborasseo" pekik Hyoyeon "ne kita jadi basah, tapi setidaknya kita sudah di dalam bus bukan?" ujarku sembari tetap membersihkan air ditubuhku "eum" sahutnya singkat. "Fanny ya! Lihat namja di depan itu!" serunya menyuruhku melihat sesosok namja yang tak kebagian tempat duduk berdiri di dekat pak sopir, kulihat namja itu sedang menghadap ke depan dengan menggunakan sebuah headphone besar berwarna putih "dari belakang saja aku sudah bisa menebak, dia pasti tampan. Lihat postur tubuhnya? Tinggi bukan? gayanya juga nampak daebak. Ah nuguya namja itu ne?" gumam Hyoyeon sok tahu. "Ah mendengar ucapannya aku jadi ingin bertemu dengan half appleku, kapan ya aku menemukan seorang namja yang akan menjadi half apple ku kelak?" bathinku menundukkan kepalaku "hachiiiimmm...." yaks aku jadi flu. Kenapa Acnya tidak dimatikan? Apa agassi tidak tahu penumpangnya kedinginan.


   Busnya terhenti di depan halte tujuanku, yaks kenapa masih turun hujan. Aku tidak membawa payung, bagaimana aku bisa pulang? Ah sebaiknya aku menunggu hujan berhenti di halte saja, dari pada flu ku tambah parah. Aku segera berlari dipayungi tasku menuju halte, ah andai saja aku bersama Hyoyeon ini pasti tidak begitu menyebalkan. Sayangnya ia sudah turun lebih dulu, kulihat penumpang lain membawa payung hanya aku yang tidak membawa benda itu sekarang. Aku segera menunggu hujan terhenti di sebuah halte, kulihat ada namja yang tadi kulihat di dalam bus kini berdiri di sampingku. Namun aku tak menghiraukan keberadaannya, toh aku tidak mengenalnya.  "Mwo?" namja itu memberikanku payungnya, kutatap kedua matanya "matanya indah, tatapannya begitu tajam. Wajahnya begitu teduh tampan, kenapa aku mendadak merasa waktu terhenti sesaat?" bathinku menatapnya, ada kejadian yang sama saat aku kecil dulu. Ya aku kembali teringat masa kecilku, kejadian itu begitu sama persis dengan kejadian saat ini. Ku ambil payungnya, namun belum sempat kuucapkan terima kasih kenapa namja tampan itu pergi begitu saja?. Aku merasa dia adalah half appleku, karena ada rasa yang tak biasa menghampiri hatiku. Jantungku berdebar begitu cepat saat matanya menatap kedua mataku, tetapi aku tak sempat menanyakan siapa namanya. Aku harus pulang sebelum hujan semakin besar, tunggu! Aku melihat seekor anak anjing berada di dalam sebuah kardus, anjing ini lucu. Kurasa ia punya nasib yang sama denganku hari ini, tak ada salahnya jika aku membawanya pulang, akan kurawat anjing kecil berras chihuahua itu dengan baik.

   Hujannya sudah berhenti, jadi aku tidak perlu menggunakan payung lagi. Aku sudah hampir sampai di depan rumahku. "Anjing kecil, sekarang kau anggap rumahku adalah rumahmu ne? Kau akan jadi bagian dariku" gumamku sembari mengusap-usap anjing kecil berwarna cokelat tersebut. Aku sampai di depan rumahku, "aku pulang" sahutku sembari memakai sandal ganti "kenapa rumah ini begitu sepi? apa oppadeul belum pulang?" gumamku terus menaiki anak tangga satu persatu "surprise!!!" teriak semua oppaku mengejutkanku "mwosun suriya?" tanyaku menatap kelima kakakku. Kuperhatikan Eteuk oppa membuka pintu kamarku "omo!!!! yeoppo" gumamku tersentak melihat kamarku mendadak indah "masuklah!" seru Siwon oppa. Aku segera berjalan, memasuki kamarku. Kutatap kamarku penuh dengan rasa kagum, indahnya kamarku dengan cat berwarna hijau muda, tempat tidur dengan ranjang berwarna putih serta gorden berenda "oppa! Apa ini kamarku?" tanyaku masih celingukan menatapi kamarku "ne, ini kamarmu. Kau suka?" jawab Eteuk oppa kuanggukkan "ah ada lagi, sini ikut aku!" tarik Yesung oppa mengajakku ke dalam sebuah ruangan "mwo???? ini kamar mandiku? Bath tubnya luas sekali?" ujarku kembali berdecak kagum melihat kamar mandiku yang luas dan indah "Fanny ya! Lihat, kau bisa tidur di sini" ujar Wookie oppa berbaring di bath tub "hey Wookie ya! Berhentilah bersikap norak!" tukas Heechul oppa membuat Wookie oppa bangun dari bath tub dengan wajah kesal. Oppadeul kembali mengajakku ke ruang di sebelahnya "ini adalah ruang kostummu, jadi kau tidak perlu lemari untuk menyimpan semua pakaian dan aksesorismu? Bagus bukan?" ujar Yesung oppa membukakan pintu ruangan itu. Aku benar-benar terkejut melihat ruang gantiku yang luas "oppa, apa kalian tidak berlebihan?" tanyaku menatap oppadeul aegyo "berlebihan bagaimana?" tanya Eteuk oppa mengernyitkan dahinya "ini terlalu mewah untukku" jawabku "kau kan princess kami, jadi kami akan berikan yang terbaik untukmu. Ini tidak berlebihan, kau tenang saja ne!" ujar Eteuk oppa "lalu bagaimana dengan kamar Wookie oppa???" tanyaku kembali menatap keempat kakakku "untuk dia sudah kami siapkan juga kok!" sahut Eteuk oppa membuat aku dan Wookie oppa senang mendengarnya.


   Aku dan Wookie oppa segera berlari keluar, kami berlari menuju ruangan di samping kamarku. Aku dan Wookie oppa dengan sigap menarik pegangan pintu tersebut "mwo??? kenapa ini tidak bisa dibuka oppa?" tanyaku setelah menarik gagang pintu tersebut "jelas saja tidak bisa, itu bukan kamar Wookie. Itu akan kami jadikan toilet pribadi untukmu besok" jawab Heechul oppa membuatku dan Wookie oppa benar-benar tersentak "lalu kamarku di mana?" tanya Wookie oppa ketus "di bawah!" sahut Yesung oppa. Aku dan Wookie oppa segera berlari ke ruang bawah, namun langkahku kalah cepat dengan Wookie oppa. Kulihat Wookie oppa sudah sampai di ruangan itu "ah ini kah ruangan........ nya" aku kembali terkejut melihat kamar ini "Hyung! Bukankah ini gudang?" tanya Wookie oppa "memang, kau bersihkanlah ruangan ini. Ruangan ini masih bisa kau gunakan untuk kamarmu" jawab Eteuk oppa "di rumah ini sudah tidak ada ruangan lain, semua habis untuk Fanny. Hanya ruangan ini yang tersisa, jadi gunakanlah ruangan ini dengan sebaik mungkin!" tambah Heechul oppa kulihat membuat Wookie oppa semakin kesal "kasihan Wookie oppa" pekikku "Sudahlah hyung, aku masih ada pekerjaan. Aku harus ke kamar!" sahut Yesung oppa pergi dari ruangan itu "aku juga" sahut Siwon oppa "ya sudah, kajja kita keluar dari sini!" seru Eteuk oppa, mereka semua pergi meninggalkan aku dan Wookie oppa "Wookie oppa!!! gwenchanayo?" seruku aegyo, ia menggelengkan kepalanya "ini tidak adil, sungguh tidak adil!" dengusnya kesal "oppa!! sabar ne! Tenang saja, aku akan membantumu mendapatkan kembali kamarmu! Uljima nde oppa!" aku berusaha menenangkannya "nde" sahutnya.

Tiffany's POV End

***

Wookie's POV

    Menyebalkan.. Benar-benar tidak adil, kenapa selalu Tiffany yang mendapatkan keistimewaan sedangkan aku selalu menderita? Mereka selalu menyuruhku menjaga Tiffany, seakan-akan kakaknya hanya aku. Bahkan demi menjaga Tiffany, aku sampai harus tinggal kelas dan harus sekolah satu kelas dengan Fany. Setiap hari kerjaanku mengikutinya dan menjaganya, padahal mereka juga kakak dari Fany tapi seakan hanya aku kakaknya. Mereka selalu menekanku.... Arrgghhh aku tidak tahan hidup begini, aku juga harus kehilangan kamarku dan tidur di gudang hanya demi Fany. Kapan aku bisa bahagia jika hidupku selalu dibully kakak-kakakku yang gila.

   Kulalui malam ini di gudang, meski banyak nyamuk dan gelap aku harus tetap memaksakan diri tidur di sini "gwenchanayo Wookie ya!!!!" gumamku menenangkan pikiranku sebelum tidur. Keesokkan harinya, ketika pagi menyapa aku bangun dengan penuh rasa malas dibahuku. "Aku harus pergi dari rumah ini, lagipula jika aku pergi dari sinipun tak akan ada yang peduli denganku" bathinku masih duduk di tempat tidurku. Aku pun segera bersiap-siap untuk pergi.

Wookie's POV End

***

Narasi

   Setiap pagi komputer di kamar Tiffany menyala dengan sendirinya, setelah menyala pasti muncul video berisikan Leeteuk yang sedang membangunkannya "Tiffany chagi ireona! Ini sudah jam 7... Cepat kau bangun dan mandi, ah jangan lupa sikat gigi dan sarapan ne! Jangan lupa kau berangkat ke kampus secepatnya ne chagi!!" alarm itu selalu berbunyi mengganggu sekali, membuat Tiffany dengan sigap bangun dari tidurnya. Tiffany segera bangun dari tidurnya, ia meletakkan anjing kecilnya di kasur empuknya, dengan wajah panik ia segera mencari handuk dan menuju kamar mandi. Ia segera menyikat giginya, namun alarmnya belum juga bisa dihentikan. Ia mencoba mematikan komputernya namun sia-sia komputernya tetap kembali menyala dengan sendirinya. Ketika menyikat gigi ia melihat Wookie melewati pintunya "Wookie oppa!!!" serunya membuat Wookie yang sudah tidak punya semangat hidup terpaksa menoleh "mwo?" tanya Wookie datar "bagaimana cara mematikan komputerku? Eteuk oppa sangat mengganggu, bantu aku mematikannya oppa jaebal!!!!" ujarnya manja seraya menggigit sikat giginya "aku tidak tahu cara mematikannya" ujar Wookie datar lalu cepat-cepat keluar dari kamar Fany "oppa!! Kenapa kau membawa tas begitu banyak?" tanyanya mengikuti langkah Wookie "aku mau pergi, sudahlah kau selesaikan mandimu!" ujarnya membelakagi Tiffany "nde oppa" sahut Fany segera kembali ke kamar mandinya.


   "Aku harus pergi sekarang, kebetulan kakak-kakak gilaku tak ada di rumah. Baguslah" ujar Wookie berjalan mengendap-endap menuju pintu. Ia mempercepat langkahnya setelah berhasil keluar dari rumahnya, ia terus berjalan namun di persimpangan jalan ia bingung hendak pergi kemana "aku harus kemana? Setidaknya harus ada rumah teman yang bisa kusinggahi untuk sementara, tapi nuguya?" gumamnya menggarukkan kepalanya yang tidak gatal. Tanpa pikir panjang, ia melanjutkan langkahnya. Di tengah jalan ia berpapasan dengan seorang namja "hey! kau! kau.. bukankah kau Lee Sungmin??" seru Wookie membuat namja itu berpikir sesaat "ah ne bukankah kau Ryeowook? Wookie ya?" sambut namja itu menunjuk ke arah Wookie sembari tersenyum "ne ini aku, kau teman SD ku bukan? Kau kenapa bisa ada di sini?" tanya Wookie tersenyum "ah ne, aku baru saja pindah ke sini. Lihat! Rumah berwarna cokelat itu adalah rumahku" sahut Sung Min menunjukkan rumahnya yang bertingkat dua dan minimalis "wuah tak kusangka kita jadi tetangga? Sung Min ah bolehkah aku tinggal di rumahmu sementara?" ujar Wookie menganggap ini adalah solusi masalahnya "mworago?" Sung Min terkejut "boleh ne! jaebal!! hanya sementara saja, sampai masalah aku dengan kakakku selesai, jaebal!!" Wookie terus memohon hingga Sung Min tak mampu berkata apapun "geure, kajja kita ke rumah!" serunya "gomawo chingu!" sahut Wookie ceria. 

   Wookie pun kini berada di kamar Sung Min tepat di lantai dua, Sung Min menyuguhkannya segelas teh hangat "gomawo" ucap Wookie tersenyum "cheonma" balas Sung Min. "Apa aku boleh tahu? Kau ada masalah apa dengan kakakmu?" tanya Sung Min duduk di depan Wookie "kakakku selalu membullyku, dia memusnahkan kamarku hanya untuk memperluas kamar yeodomsaengku satu-satunya. Kakakku selalu saja memperlakukan domsaengku dengan istimewa, aku disuruh tidur di gudang. Aku tidak terima..." ujar Wookie antusias tokk..tokkk..tokkk "Wookie oppa" seru Tiffany sudah berada di luar jendela balkon kamar Sung Min "ah diam kau!!" seru Wookie tak menyadari kehadiran Tiffany tokkk.. tokkk... tokk.... "Wookie oppa!!" seru Tiffany kembali membuat perhatian Sung Min kembali teralih. Sung Min menunjuk ke arah jendela, berusaha memberitahu Wookie yang sibuk bercerita. 


   Wookie pun tersadar bahwa yang tadi ia lihat dari balik kaca adalah sosok Fany "Fany ya?" sahut Wookie segera membuka kaca jendela kamar Sung Min. Fany segera masuk ke dalam kamar Sung Min "kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Wookie masih tak mengerti "aku mengikutimu sejak kau keluar rumah tadi" jawab Fany polos "yakss!!! kenapa kau mengikutiku?" dengus Wookie "karena aku tak mau kau pergi dari rumah, kajja Wookie ya kita pulang!" ujar Fany manja seraya menggoyang-goyangkan tangan Wookie "ah aku tidak mau pulang, jika hyungdeul mengembalikan kamarku baru aku mau pulang, jika tidak aku tidak akan pulang. Lagipula mereka tidak ada yang peduli padaku. Oh ne kenalkan dia Lee Sung Min teman SD ku" pekik Wookie lalu hendak memperkenalkan Sung Min pada Fany. Sung Min mengulurkan tangannya pada Fany namun Fany nampak malu-malu "naneun Tiffany imnida, bangapseumnida" sahut Fany tersipu "ne bangapseumnida, naneun Lee Sung Min imnida" balas Sung Min tersenyum "aigho, bukankah dia half appleku? bukankah dia namja pemilik payung itu? jadi namanya Lee Sung Min? kenapa dia begitu dingin? Apa dia tidak ingat aku sama sekali?" bathin Fany menatap Sung Min yang kembali terduduk di dekat jendela kamarnya. Sadar diperhatikan, Sung Min menoleh ke arah Tiffany dan membuat Tiffany menundukkan kepalanya cepat-cepat.  "Aaahhh oppa, biar nanti aku membantumu mengembalikan kamarmu nde" ujar Fanny mengalihkan pandangannya "ah jinjja?? kau mau membantuku? bagaimana caranya?" sahut Wookie nampak antusias.

   Tiffany mencoba memikirkan bagaimana cara ia membantu Wookie untuk mendapatkan kembali kamarnya "ah aku tahu, bagaimana jika aku berpura-pura melarikan diri dari rumah dan kau menemukan surat dariku. Eotthae?" sahut Fany menjentikkan jarinya "ah ne, setuju. Ya sudah cepat kau tulis suratnya! biar nanti aku kembali ke rumah dan berpura-pura menemukan suratmu" ujar Wookie "eum nde, lalu bagaimana isi suratnya?" tanya Fany "baiklah, aku yang sebutkan dan kau yang menulis nde?" ujar Wookie dianggukkan "eum, kalian sibuk? Kalau begitu kalian lanjutkan ne, aku keluar sebentar!" sahut Sung Min menutup buku yang sedang dibacanya "diam kau!!" seru Tiffany dan Wookie membuat Sung Min mengurungkan niatnya dan kembali melanjutkan membaca.

   Selesai menulis surat, Wookie segera memutuskan untuk pulang "aku pulang sebentar, kau di sini dulu ne!" seru Wookie berhasil membuat Fany terkejut "Sung Min ya! Biarkan Tiffany di sini sementara ne! Aku pulang dulu" Wookie juga berhasil membuat Sung Min terkejut "mworago?" tanya Sung Min menatap Tiffany malu-malu "ah geureyo" sahutnya lagi. Kemudian Wookie cepat-cepat pulang ke rumahnya.

Narasi End

***

Sung Min' s POV


  Kenapa Wookie meninggalkan domsaengnya bersamaku? Aku kan jadi canggung, yeoja ini? Bukankah yeoja ini yang kemarin kupinjamkan payung di halte? jadi yeoja ini domsaengnya Wookie? Tiffany namanya? Dia nampak cantik dan lugu, kenapa aku jadi gugup menatapnya?.

Kembali di Dalam Bus kemarin

  "Hacciihhhh" kudengar ada suara seorang yeoja yang bersin di belakang, aku sempat menoleh menatapnya "Agassie, bisa kecilkan acnya?" seruku pada paman sopir. Kurasa itu cukup membuatnya tidak bersin lagi.

Kembali ke Kamar Sung Min

  Ah benar, dia juga yang kemarin bersin di dalam bus, dia nampak manis. Ah dari pada aku gugup lebih baik aku melanjutkan membaca bukuku.

Sung Min's POV End

***

 Wookie's POV

   Aku berjalan mengendap-endap memasuki rumahku, aku segera menuju lantai dua "aku kembali" sahutku pelan menatap ke atas tangga. Seseorang menepuk bahuku, aku segera menoleh ke belakang, Yesung hyung mengibaskan sebuah panci ke arahku. Seketika aku merundukkan kepalaku, tak kusangka di belakangku sudah berdiri Siwon dan Yesung hyung. Hampir saja kepalaku benjol dibuatnya, mereka menodongku dengan panci itu hingga aku mundur perlahan dengan posisi terduduk "dari mana kau eoh?" tanya Yesung hyung menodongku dengan panci itu "aku.. aku...." aku jadi gugup begini "kenapa kau tidak mengangkat telpon kami eoh?" tanya Siwon hyung "apa kau ingin mati eoh?" tambahnya seraya memencet pipiku "aniya, baterai ponselku habis hyung" jawabku pasrah "dimana Tiffany eoh?" lagi-lagi Yesung hyung menodongku dengan panci itu, yaks paborasseo. "Lho? Memangnya Fany tak ada di kamar??? Fany ya!! Fany hyungdeul mencarimu!!!" seruku berbohong "apa terjadi sesuatu padanya?" tambahku berpura-pura panik "yakss kau tidak tahu? Tiffany hilang" sahut Siwon hyung memelototiku "mwo?? jinjja??? Fany hilang? Tidak mungkin, Fany! Fany ya cepatlah turun! Berhentilah bermain-main!" aku kembali berpura-pura kaget "kenapa dia bisa menghilang?" tanyaku memasang wajah senang pletaakkk... yaks Yesung hyung akhirnya berhasil memukul kepalaku dengan panci "auuuww appo hyung" pekikku mengusap keningku "kau masih tanya kenapa lagi? paboya" sahutnya setelah memukul kepalaku "saat kami tak ada di sini, kau lah yang seharusnya menjaga Fany!" Yesung hyung selalu saja bicara begitu "cepat katakan kemana Tiffany pergi!!" Yesung hyung terus mendorong tubuhku dengan panci itu "mollayo... ah itu ada suara bel? mungkin saja itu Fany" ujarku mendengar bel rumahku berbunyi "Tiffany... Tiffany ya!!" seruku berlari menuju pintu.



   Yaks kenapa Eteuk dan Heechul hyung yang muncul dari balik pintu? paborasseo "Bagaimana dengan Fany? apa kalian sudah menemukannya?" tanya Eteuk hyung pada Siwon dan Yesung hyung "kemana dia pergi eoh?" tanyanya lagi "mollayo hyung, kami belum mendapatkan kabar darinya" jawab Siwon hyung, sepertinya aku harus menghindari mereka sekarang "yang jelas hyung, yang harus bertanggung jawab atas kehilangan Fanny adalah dia!" Siwon hyung menunjuk ke arahku "Wookie yaaaa!!!" seru Eteuk hyung menyeramkan. Mereka menghampiriku sebaiknya aku segera bersembunyi di balik bantal sofa saja "aaahhh" mereka mengangkat kedua kakiku dan membalikkan tubuhku, mereka memegangi tubuhku "habislah aku" bathinku "mungkin saja Fany sedang bersama Hyoyeon, nde?" sahutku "ah biar kutelpon Hyoyeon sekarang" tambahku sembari mengeluarkan ponselku "Wookie ya!!! Kau bilang baterai ponselmu habis eoh?ujar Siwon oppa membuatku terkejut "ah ani, mungkin hyung salah dengar! Baterai ponselku penuh kok" belaku mulai gugup "akan kutanyakan padanya, dia pasti tahu di mana Fany sekarang" tambahku "yoboseyo Hyoyeon ya eoddiseyo? (Hallo, Hyoyeon kau di mana?)" ucapku berpura-pura bicara dengan Hyoyeon "aigho.. kenapa Hyoyeon muncul dari lantai dua? yaks matilah aku!" pekikku tersentak melihat Hyoyeon tiba-tiba muncul dari atas "kenapa kau di sini?" tanyaku "Hyoyeon kau masih di sini?" tanya Yesung hyung "ne Yesung oppa, aku ada di sini sejak tadi. Aku tidur di kamarmu, akh tempat tidurmu begitu nyaman membuatku mudah tertidur" ucap Hyoyeon memeluk Yesung oppa. Yaks paborasseo, kulihat Yesung hyung berusaha melepaskan pelukan Hyoyeon. Hihi lucu tingkahnya, akh tapikurasa aku harus segera pergi. Auranya sudah tidak enak berada didekat hyungdeulku "kenapa kalian memerhatikanku seperti itu?" tanya Yesung hyung saat semua hyung memerhatikannya dengan tatapan curiga "Hyoyeon bilang dia tidur di kamarku karena... Lelah menunggu Tiffany" tambahnya gugup. 

    Aku bersembunyi di balik tubuh besar Yesung hyung "Hey! yang terpenting sekarang bukan membahas masalah aku dengan Hyoyeon tapi....." ucapnya membalikkan badan, yakss dia menarik tanganku ke tengah-tengah sekumpulan hyungku "matilah aku" bathinku pasrah melihat tawa evil dari semua hyung "sekarang aku tanya padamu, apa tujuanmu di rumah ini eoh?" Eteuk hyung bertanya sembari tersenyum mencurigakan kepadaku "eum... 1. un.. untuk menjaga Fany, 2 pergi dan pulang sekolah bersama Fany, ketiga Jangan membiarkan namja mendekati Fany, keempat apapun yang Fany minta aku hanya katakan ya bukan tidak, kelima harus selalu sadar dengan gerak gerik Fany, Keenam aku pergi kemanapun Fany pergi, ketujuh selalu berada di samping Fany setiap saat" aku benar-benar harus mendikte semua aturan hyungku "nah itu ketujuh aturan yang harus kau patuhi" ucap Eteuk hyung "bukankah ketujuh hal itu maknanya sama saja?" tanyaku ditertawakan oleh semua hyungku "jadi benar kau tidak tahu di mana Fany berada eoh?" tanya Eteuk hyung tertawa dan menyindirku. Kyaaaa..... Yesung hyung memegangi pundakku sangat kuat "kulihat bukan masalah kita menyelamatkan dia, percuma saja ia tidak akan mengatakan apapun" ucap Yesung hyung membuatku mulai takut "formasi Hwang bersaudara..." seru Yesung hyung membuatku benar-benar takut "hyaaaaaaatttttt.........!!!!!!" seru semua hyung mulai membullyku "aaahh ani....." mereka mengombang-ambing tubuhku, Yesung Hyung cepat sekali membalikkan tubuhku menjadi berbaring tengkurap, ia dan Eteuk Hyung memegangi kedua tanganku dan Siwon serta Heechul hyung mulai menggelitiki kakiku... "aaahhh aku tidak tahan" bathinku teriak, kudengar Hyoyeon hanya menertawakanku. "Cepat kau katakan atau tidak!!" seru Eteuk hyung. 

Tiffany's POV


  Apa dia tidak mengingatku sama sekali? kenapa sikapnya begitu dingin padaku. Aku mencoba menenangkan pikiranku dengan mengalihkan pandanganku ke sekitar ruangannya, kuambil sebuah buku dan berpura membacanya. Sesekali aku mencuri pandang ke arahnya, aku merasa ia juga melakukan hal yang sama denganku. Begitu aku menoleh ke arahnya, ia segera mengalihkan pandangannya. "Baju Judo (taekwondo)?" aku tak sengaja melihat baju taekwondo tergantung "apa Sung Min juga latihan judo?" kuperhatikan baju itu, tak kusangka ia memiliki hobi yang sama denganku "hey!" serunya membuyarkan lamunanku "ada apa?" tanyaku menoleh ke arahnya "apa kau lapar?" tanyanya kugelengkan kepalaku "apa kau haus?" kembali kugelengkan kepalaku "aniya, gamsahamnida" ucapku tersipu "kau tak perlu memerhatikanku, anggap saja aku tak ada di sini!" ucapku tersenyum ke arahnya "mana bisa aku mengabaikanmu, sementara ada seorang manusia di kamarku" ucapnya "ne mianhae" ucapku tersipu. Kulihar ia keluar dari kamarnya "dia benar-benar dingin padaku, ini benar-benar jauh berbeda dengan saat ia meminjamkan payungnya padaku. Apa ini penyebab ia melupakanku??? ah tidak mungkin dia lupa padaku" gumamku.

Tiffany's POV End

***

Narasi

   Wookie masih berada di rumah, tepat di ruang tamu bersama keempat hyungnya. Yesung sibuk menelpon teman-teman Fany untuk mencari tahu keberadaan Fany saat ini "hey! hyungdeul kalian jadi berlebihan, kalian tak perlu khawatir ini baru pukul 04.30 sore" ucap Wookie berpura-pura tenang "dengar! Apa kalian tidak bisa seperti Wookie?" ucap Heechul. Sementara Eteuk yang tengah berdiri di depan jendela kembali teringat saat kecil dulu. Di mana Aboji menggendong Wookie yang sedang menangis saat kecil, sementara hyungdeulnya sedang dinasihati sang ayah.

Masa Kecil
 
 "Kusuruh kalian untuk saling menjaga saudara kalian tetapi kenapa kalian tidak melakukannya eoh?" sahut ayah berjenggot panjang itu sembari menimang Wookie yang tengah menangis "kalian berantakan, kotor seperti anak liar saja. Jika ibumu pulang kalian akan mengerti apa maksudku" tambah sang ayah membuat semua anaknya tertunduk "sudahlah Wookie hentikan tangismu! uljima chagiya!" sang ayah masih terus mencoba hentikan tangisan Wookie kecil. "Aku pulang" mendengar suara ibunya kembali, semua hyung tertunduk ketakutan "aigho anak-anak, kalian kotor sekali? nakal!" ucap sang ibu sembari tersenyum dan menimang Fany kecil lalu berlalu begitu saja. Sejak Fany lahir, ibunya berubah drastis. Dari sifatnya yang tempramen berubah menjadi manis dan lemah lembut, karena itulah semua keluarga menganggap Tiffany sebagai dewi keberuntungan di rumah ini. Sejak saat itu semua hyungnya memperlakukan Tiffany dengan sangat istimewa, itu juga merupakan perintah dari sang ibu dan ayahnya.

Kembali Ke Masa Sekarang

   "Sejak Fany datang, eomma benar-benar berubah dari eomma yang menyebalkan menjadi eomma yang mengagumkan" ujar Eteuk duduk di samping Wookie "Tiffany benar-benar bintang keberuntungan bagi kita" tambah Yesung "ne" Siwon menyetujuinya "kajja kita lanjutkan mencari Fany! Akan kubuatkan rute pencarian kita" seru Eteuk segera ke meja tempat di mana ia dan hyung lainnya berkumpul. Mereka pun berunding, sementara Wookie masih duduk di sofa sendirian.


   "Dari mana kita mulai pencarian?" tanya Yesung memerhatikan peta Seoul bersama dengan yang lainnya "kita mulai dari rumah lalu berbelok ke kiri kemudian lurus seperti ini" ujar Eteuk sambil menunjuk peta. Sementara Wookie memerhatikan mereka dari kejauhan "ah kurasa ini waktu yang tepat untuk melakukan rencanaku dan Fany" pikirnya tersenyum picik "kemudian kita pergi ke sini dan setelah itu..." Wookie masih mendengarkan ucapan Eteuk yang sedang mengatur rencana pencarian "bagaimana caranya agar aku tetap terlihat innocence?" pikir Wookie. Wookie tersenyum picik dan segera membalikkan badannya "aku harus membacakan surat wasiatnya sekarang!" gumam Wookie membuka kertas tersebut "apa dia sembunyi dan tidak ingin ditemukan siapapun?" tebak Yesung hyung terdengar Wookie "aku tidak peduli, kajja kita tetap lanjutkan pencarian" ujar Eteuk. Sementara Wookie sudah membuka lebar surat itu, layaknya sedang membacakan sebuah puisi, ia angkat surat itu tinggi-tinggi "Wookie ya benar, kembalikan kamarnya! Atau aku tak akan kembali. Tiffany" Wookie membaca surat itu membuat semua hyung menoleh ke arahnya "aku rasa ini adalah alasan kenapa Fany melarikan diri, jika kalian bisa memenuhi keinginannya kurasa ia akan pulang" ujar Wookie menatap keempat kakaknya, mendengar ucapannya semua kakaknya segera menghampirinya. Yesung dengan keras merampas sepucuk surat tersebut dari tangan Wookie "Wookie ah" sahutnya segera menatap sinis Wookie sembari merobek-robek sepucuk surat buatan tersebut. Wookie meringis "ini nampak kau yang menulis, jangan coba membodohi kami. Arasseo?" seru Yesung melempar kepingan kertas tersebut ke arah Wookie "di saat genting begini masih bisa-bisanya kau bergurau eoh? kau cari mati?" tambahnya memaki Wookie menoyor kepalanya "aku tidak bergurau, aku menemukan surat itu di di bawah sofa" bela Wookie tak digubris "sudahlah Yesungie jangan ganggu anak pabo itu, yang terpenting sekarang adalah menemukan Fany secepatnya" seru Eteuk kembali berkumpul dengan yang lain.

   "Ok guys! kembali ke topik, kita sangat mencintainya jadi ia tak ada alasan untuk pergi dari rumah" lanjut Eteuk kembali berunding "Hey! bagaimana jika terjadi sesuatu pada Fany? Seperti kecelakaan, jika seperti itu dia mana mungkin bisa pulang?" sahut Heechul panik "tidak mungkin, aku sudah menghubungi rumah sakit dan polisi terdekat. Jika terjadi sesuatu padanya, aku akan mengetahuinya lebih dulu" sahut Eteuk berusaja tenang "lalu bagaimana jika Fany diculik?" tambah Heechul berhasil membuat Eteuk dan yang lainnya ikut panik "diculik? itu tidak mungkin" ujar Wookie "Fany kan cantik, jadi sangat mudah diikuti orang lain. Bisa saja kan diculik? Kemarin malam aku melihat berita online bahwa seorang yeoja yeoppo berhasil diculik oleh tetangga barunya" ujar Siwon semakin membuat suasana semakin panik "itu dia, kudengar ia mencekik yeoja itu dengan sebuah tali tambang. Dia menggunakan mobil untuk menculik yeoja itu dan membawanya ke puncak gunung dan kemudian...." tambah Heechul diikuti membayangkan Fany berada di sebuah gua gelap membawa sebuah lampu pijar, ketika menoleh ada seseorang menggunakan topeng seram membawa pedang panjang berujung kapak. Fany berteriak dan lari ketakutan "dan penculik itu membunuh Fany lalu ini lalu itu..." ucap Siwon menambah ketakutan tak berarti di antara mereka. Mendengar kekhawatiran hyungnimnya semakin berlebihan, Wookie segera pergi menghampiri mereka "changkaman! changkaman! Yaaksss kalian berlebihan, kecemasan kalian benar-benar berlebihan. Apa kalian lupa Fany jago judo? Dia pasti akan melakukan jurus-jurusnya untuk melindungi dirinya" ujar Wookie berusaha menenangkan para hyungnya "lalu bagaimana jika yang dihadapi Fany seorang bertubuh besar? atau seorang alien?" sahut Yesung kembali membuat semuanya panik "mwo? alien?" sahut Siwon nampak ketakutan. Yesung membayangkan Tiffany dikejar seorang alien hingga lari terbirit-birit "Stop! Aku sudah tidak bisa lanjutkan hal ini, ini terlalu menakutkan. Kita harus segera melaporkannya ke polisi" sahut Yesung "aniya, kita tidak bisa melaporkan Fany hilang karena ini belum 24 jam. Sia-sia jika kita melapor sekarang" sergah Eteuk "aku tidak peduli, aku tidak mau melihat Fany diculik atau bertemu alien" tukas Yesung ngotot "tenang! tenang! Coba kita berpikir dengan benar!" seru Eteuk "aku tidak peduli, aku akan mencarinya" Yesung segera pergi tanpa menghiraukan ucapan Eteuk "changkaman! kau tidak bisa pergi dalam keadaan seperrti ini!" Siwon mengejar langkah Yesung "selesai sudah, rencanaku gagal" pekik Wookie dalam hati "changkaman! aku ikut!" sahut Wookie segera berlari menyusul.

   Wookie segera pergi menuju rumah Sung Min menggunakan sepedanya "Fany! Tiffany kajja kita pulang!!" serunya sesampainya di depan rumah Sung Min "Sung Min!!!" serunya membuat Sung Min membuka jendela kamarnya "di mana Fany? bawa dia ke bawah, aku harus membawanya pulang sekarang" sahut Wookie panik. Sung Min menoleh ke belakang tanpa makna, tak beberapa lama Sung Min segera membuka pintu gerbang rumahnya "dia sudah pergi sejak dua jam yang lalu" sahut Sung Min seraya membuka pintu "mwo? apa dia pulang?" tanya Wookie mengikuti langkah Sung Min di belakang "kuharap begitu" jawab Sung Min "tapi aku tidak melihatnya di rumah sejak tadi" Wookie mulai merasa khawatir "mwo? kau tidak melihatnya?" tanya Sung Min terkejut "Sung Min ah katakan padaku kemana ia pergi?" sahut Wookie "aku benar-benar tidak tahu.. hanya saja..." ucap Sung Min berusaha mengingat sesuatu "mungkin ini..." ucap Sung Min masih berusaha mengingat "mungkin? mungkin apa?" tanya Wookie penuh harap "mungkin ini karena ada sesuatu yang bau, aku mungkin memarahinya" ujar Sung Min ragu "mwo? kau memarahinya? seumur hidupnya Fany tidak pernah dimarahi oleh siapapun" ujar Wookie terkejut.

Narasi End

***

Sung Min's POV

   Aku benar-benar tidak tahu ia menganggap bahwa ucapanku tadi adalah memarahinya. Aku coba mengingat kejadian sebelum Fany pergi.

Dua Jam yang lalu


   Aku melihat Fany duduk di pojok kamarku tepat di dekat tempat tidurku dengan ekspresi murung. Segera kuhampiri dirinya yang masih menyandarkan kepalanya di dinding "gwenchanayo Fany ya?" tanyaku mencemaskannya. Ia menoleh sedikit ke arahku "kau nampak berkeringat, apa kau sakit? atau sesuatu?" tanyaku kembali mencemaskannya. Ekspresinya sulit kuartikan "toilet" ucapnya membuatku mengernyitkan dahiku "toilet???" tanyaku mempertegas "aku perlu memakai toilet tapi aku sudah menahannya terlalu lama dan rasanya sangat tidak enak" gumamnya lemas dan sepertinya masih menahan rasa sakit "kenapa kau tidak bilang padaku?" tanyaku tegas "aku merasa bilang padamu akan mengganggumu" ucapnya malu-malu sesekali kulihat ia memejamkan matanya "kau tidak menggangguku sama sekali, toilet ada di sana. Lurus ke sana" sahutku menunjuk lurus di belakangku "jika kau menahannya terlalu lama, kau akan merasa tidak nyaman. Bagaimana kau bisa menahan hal seperti ini? Paili wasseo dan pergilah!" ujarku kesal mendengar keluhannya yang seperti anak kecil. Aku segera meninggalkannya di kamarku sendirian, kubanting pintu kamarku tanpa kutahu bagaimana reaksinya.

Kembali Saat ini

   "Jadi kau benar-benar memarahi Fany?" sahut Wookie membuatku merasa bersalah padanya "Wookie ah mianhae, aku benar-benar menyesal karena aku tak pernah berinteraksi dengan yeoja sebelumnya dalam situasi seperti itu jadi aku merasa ada sedikit tekanan" ujarku benar-benar merasa bersalah padanya dan Fany "sejak kecil Fany tak pernah dimarahi siapapun hingga tumbuh dewasa, semua orang mencintainya tak ada satu orang pun yang berani memarahinya, dia pasti sedih sekali saat ini" ucapan Wookie menambah rasa bersalahku "bagaimana ini?" bathinku "aniya, aku harus bisa menemukannya" sahut Wookie bergegas "changkaman! aku ikut!" sahutku mengejarnya menggunakan sepedaku. Aku dan Wookie mencari Fany di sekitar sini menggunakan sepeda kami masing-masing, kami melewati jembatan yang tak jauh dari rumah kami "Tiffany!! Tiffany eoddisseo?" teriak Wookie "Fany!! Tiffany ah eoddisseoyo?" teriakan yang sama dari mulutku sembari terus mengayuh sepeda. Changkaman, aku melihat sekumpulan orang sedang berkumpul di tepi sungai memerhatikan sesuatu yang mengambang di tengahnya "wae?" tanya Wookie melihatku terhenti di tepi sungai "di sana! kenapa begitu banyak orang di tepi sungai?" jawabku masih menatap ke arah kerumunan orang-orang itu "Tifanny???" sahut Wookie setelah melihat ada sosok yeoja yang mengambang di sungai tersebut..........


TBC


Akhirnya bisa juga thor selesaikan chapter 1... panjang tak???? panjang ne??? tapi semoga bikin penasaran readers semua... Kira-kira yeoja yang mengambang di sungai itu siapa ne???? Lalu kemana Fany pergi??? Apa benar yeoja yang di sungai itu Tiffany???? Kyaaaa Penasaran kan????? Makanya biar ga penasaran jangan lupa nanti baca kelanjutannya nde???? Gamsha for RCL ^^... *bow    
  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tinggalkan Jejak Disini Chingudeul!!